Tengahnya Jawa Tengah Menuju tengahnya Jawa Tengah dengan berganti-ganti bus, ternyata melelahan, tapi sekaligus memberi rasa puas. SUDAH lama saya tidak menikmati pemandangan indah bagian tengah dari Provinsi Jawa Tengah, seperti daerah Banjarnegara, Wonosobo, ataupun Temanggung. Menurut sebagian orang, daerah tersebut jalur nanggung karena posisinya di tengah-tengah Pulau Jawa dan bukan jalur antarprovinsi. namun karena memiliki pemandangan yang sangat indah dan sangat sejuk daerahnya, saya kembali tergugah hasrat untuk menelusuri jalur tersebut dengan rute Jakarta-Wonosobo-Secang-Semarang-Jakarta. Trayek yang menjadi incaran saya kali ini adalah Jakarta - Wonosobo. Jalur yang banyak dilayani armada PO Sinar Jaya, menurut pengamatan saya, dan PO Dieng Indah. Namun kali ini saya juga ingin menikmati sesuatu yang berbeda. Saya ingin mencoba armada bus PO Malino Putra yang melayani jalur Jakarta-Wonosobo.
Minggu sore di bulan Januari 2008, saya berangkat dari pool PO Malino Putra, di daerah Pulogadung sekitar pukul 19.30. Armada PO Malino Putra Hino RG, dengan karoseri Rahayu Santosa model Celcius, dengan warna khasnya biru dengan ombak lautnya, telah menanti. Duduk di kursi paling depan menjadi nilai plus menikmati awal perjalanan saya. Bus yang saya tumpangi memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 40 penumpang dengan konfigurasi 2-2 recleaning seat, dengan bagian kaca depan bus ini tertulis Executive Class. Kalau menurut saya pribadi, bagusnya dikategorikan VIP Class, karena jumlah tempat duduknya. Tapi, ini adalah satu-satunya bus dengan kelas premium yang melayani jalur Jakarta - Wonosobo. Yang membuat saya tertarik saat awal-awal di bus ini, sesaat setelah semua penumpang telah lengkap diperiksa, asisten pengemudi, Bapak Harun memperkenalkan diri. Juga pengemudi yang bertugas mengantarkan saya ke Wonosobo yakni Bapak Syukur dan Bapak Muslim, turut serta diperkenalkan. Tak lupa disebutkan fasilitas yang ada di armada bus PO Malino Putra ini. Mantap, seperti saya naik pesawat terbang. Begitu melewati gerbang tol Cakung, dengan kecepatan sekitar 60-80 Km/jam, snack box kepada penumpang. Begitu saya buka, ternyata berisi 1 sachet kopi torabika, mie gelas, wafer, air mineral dalam gelas, serta tisu basah bergambar PO Malino Putra. Wow. Berdasarkan penjelasan dari kru bus, penumpang dapat membuat sendiri kopi, teh ataupun mie gelas, karena di bagian belakang bus ini tersedia dispenser dan gelas untuk membuatnya. Namun, penumpang bisa meminta tolong kru. Luar biasa. Pelayanan yang jarang di zaman seperti sekarang ini, khususnya bagi saya yang doyan ngemil dan ngopi di perjalanan. Karena penasaran, tak lama kemudian, saya langsung ke bagian belakang bus ini, sambil membawa satu sachet kopi yang telah dibagikan tadi. Kondisi jalan tak lagi jadi perhatian saya, tapi yang ada di bus ini yang saya cari. Bus PO Malino Putra yang saya tumpangi ternyata juga terdapat smooking area. Cukup untuk tiga orang di bagian belakang yang dibatasi dengan penyekat kaca selain juga untuk ke toilet bus. Di tempat ini pula tersedia dispenser untuk air panas, namun sayang ruangannya agak gelap karena hanya ada lampu kecil saja. Langsung kopi saya buat, dan saya letakkan di meja mini spesial untuk meletakkan gelas agar tidak tumpah sambil menikmati pemandangan jalan yang say alalui, sedap tenan. Buat yang tidak merokok mungkin dapat minta tolong awak untuk sekadar membuatkan kopi ataupun teh hangat yang gratis tersedia bagi penumpang. *** Empat jam kemudian sekitar pukul 23.45 bus singgah untuk makan malam dan istirahat di rumah makan Christario Ramah Tamah, di daerah Losari, Jawa Barat. Sekitar 30 menit kemudian melanjutkan perjalanan, dengan pergantian pengemudi berikutnya. Dengan kecepatan konstan sekitar 60-80 Km/jam di jalur pantura, bus terus melaju ke jalur Wonosobo dengan mengambil rute Cirebon-Brebes-Ketanggungan-Bumiayu-Purwokerto-Purbalingga-Banjarnegera Wonosobo. Di jalur Brebes sampai dengan Purwokerto yang berkelok-kelok, bagi saya pribadi bus ini cukup nyaman dengan gaya mengemudi yang santun berkecepatan sedang. Satu persatu penumpang mulai turun selepas terminal Purwokerto, sampai akhirnya pada pukul 04.30 esok paginya saya tiba di terminal Mendolo, Wonosobo, dengan penumpang hanya tinggal 3 orang. Yang lainnya banyak turun di perjalanan seperti di Klampok, Banjarnegara, dan Selomerto. Berhenti sejenak untuk sholat Shubuh di terminal, saya juga menikmati dinginnya udara Wonosobo di pagi hari. Hari masih gelap, saya pun akhirnya ikut bersama awak bus menuju tempat pencucian bus. Sambil menunggu dibersihkan saya sarapan pagi bersama pengemudi, Bapak Muslim, sambil ngobrol-ngobrol santai di warung dekat tempat cuci bus. Sebelum pukul 7.00, bus telah selesai dibersihkan. Saya pun kembali ikut ke terminal Wonosobo. Bus Malino Putra yang saya tumpangi akan parkir di terminal Mendolo, Wonosobo, tepat di depan agen tiket PO Malino Putra Wonosobo. Setelah berbincang sebentar dengan agen tiket Malino Putra Wonosobo, saya berfoto bersama dengan awak Malino Putra, dan selanjutnya saya berpamitan melanjutkan perjalanan ke daerah Dieng. Dengan mikrobus engkel, begitu warga setempat menyebutnya, dari terminal Wonosobo saya menuju daerah Dieng, yang terkenal banyak obyek wisatanya. Mikrobus yang saya tumpangi jurusan Wonosobo - Temanggung. Karena terminal Mendolo, Wonosobo, letaknya di timur kota, mikrobus ini berputar ke arah kota Wonosobo. Saya akhirnya turun di kota Wonosobo, untuk berpindah bus yang menuju Dieng. Ternyata, menuju daerah Dieng juga dilayani mikrobus engkel. Saya naik mikrobus Sahabat Putra bermesin Mitshubisi PS 100 empat roda, yang dikemudikan Bapak Mamik. Saya utarakan tujuan saya mau ke arah kawah di derah Dieng. Bapak Mamik malah menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat lokasi tersebut, padahal mikrobus yang saya tumpangi sebenarnya melayani jalur Wonosobo-Dieng-Pasar Batur. Kami sepakat, saya diantarkan menuju lokasi kawah pegunungan Dieng, kemudian mendapat bonus diajak berkeliling beberapa tempat wisata yang ada, seperti Telaga Warna dan kawasan Candi Pandawa Lima. Sepanjang perjalanan, Bapak Mamik menjelaskan cerita-cerita rakyat yang ada di daerah Dieng, yang sebagian besar menggunakan istilah pewayangan, baik nama desa atau kelurahan maupun obyek wisatanya. Saya pun tiba di daerah Dieng sekitar pukul 09.45. Saya berkililing di kawasan Dieng hanya sekitar 45 menit untuk kemudian kembali lagi ke kota Wonosobo dengan mikrobus yang sama, sekitar pukul 10.30 WIB.
Sampai di kota Wonosobo sekitar pulul 11.30. Ada beberapa pilihan sebenarnya dari Wonosobo menuju Secang, dan yang menjadi target saya mulai dari bus besar jurusan Purwokerto-Semarang, medium bus jurusan Wosobo-Magelang, dan mikrobus jurusan Wonosobo-Temanggung. Karena mulai turun hujan, saya langsung menaiki mikrobus engkel dengan jurusan Wonosobo – Temanggung, biar lebih lama dalam perjalanan sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Yang paling menarik saat menikmati perjalanan dengan mikrobus adalah penumpang bebas membawa barang bawaan. Bahkan mikrobus yang saya tumpangi penuh dengan muatan pupuk dalam karung, yang diletakkan di atas jok kursi. Penumpang pun dapat meminta untuk diantar sampai dengan depan rumah jika membawa barang dalam jumlah banyak, asalkan lokasinya tak jauh dari jalan raya. Perjalanan membelah Gunung Sindoro dan Sumbing, sangat menyenangkan. Apalagi di kanan dan kiri tampak pemandangan indah. Gerimis hujan membuat hawa sejuk menjadi bertambah dingin saja. *** Tiba di terminal Madureso,Temanggung sekitar pukul 13.30. Saya beristirahat sejenak menikmati dinginnya kota Temanggung. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke terminal Secang. Kali ini saya menumpangi bus medium 6 roda dengan rute Temanggung - Magelang. Tidak lama, hanya sekitar 20 menit, sudah tiba di terminal bus Secang. Terminal bus Secang berada di tengah-tengah, jalur utara dan jalur selatan Jawa. Sempat terlintas untuk kembali ke Jakarta melalui jalur selatan dari Purworejo, namun akhirnya saya putuskan kembali ke jalur seru Pantura dengan target transit adalah kota semarang. Dari Secang naik bus ekonomi boemel Trisulatama, grupnya Trisakti ke arah Semarang. Lumayan penuh tapi tidak sampai sesak, bersyukur saya dapat tempat duduk di bagian belakang. Harapan saya bisa sampai di Semarang agak sore, biar bisa istirahat sejenak, sebelum menumpang bus Jepara-Kudus-Jakarta yang terkenal jago kebut saat ini. Namun baru sekitar pukul 18.30, saya tiba di depan jalan menuju terminal bus Terboyo, Semarang karena jalan mulai padat. Saya akhirnya mencari buskota ke arah Krapyak, dengan harapan bisa turun di daerah Siliwangi tempat penjualan tiket bus tujuan Jakarta maupun Bandung. Tak berapa lama, yang saya tunggu muncul juga, dan langsung saja saya naik. Tiba di jalan Siliwangi, Semarang, saya mendatangi sebuah agen tiket bus. Saya sudah lama tidak naik PO Muji Jaya, begitu pikir saya. Lantas saya mencoba memesan tiket untuk tujuan Lebak Bulus, Jakarta. Namun, saya sangat kecewa, karena tiket sudah habis. Hebat, bukan di masa liburan kok tiketnya sampai habis. Saya pun mencari bus lain yang belum pernah saya coba, yakni PO Senja Furnindo. Tapi, ternyata tidak ada agennya di Jalan Siliwangi, yang ada PO Haryanto. Setelah saya tanyakan, ternyata untuk tujuan Lebak Bulus masih ada. Tak berapa lama sekitar pukul 20.30, busnya datang. Mercedes Benz OH 1521 karoseri Morodadi tampaknya. Ternyata ada tempat duduk kosong, dan saya pun langsung saya naik. Bus PO Haryanto hampir penuh. Saya mendapat tempat duduk di bagian tengah. Baru duduk sudah diantarkan roti dan air mineral botol ukuran tanggung. Lumayan buat ganjal perut yang mulai keroncongan. Mau tiduran sayang juga. Akhirnya saya menikmati laga Pantura sambil selonjoran, dan sesekali ngintip ke depan. Lebih kurang satu jam kemudian, saya sampai di daerah Gringsing. Bus PO Haryanto yang saya tumpangi berhenti istirahat, dan makan malam di rumah makan Bukit Indah. Wah ada service makan juga nih. Kebetulan lapar banget, karenanya saya langsung saja ngantre mengambil makanan. Selasai makan malam dan sholat, saya ngobrol dengan kenek, dan memohon izin duduk di kursi ekstra di depan, yang ternyata boleh. Tiga puluh menit kemudian, habis makan malam, saya langsung menikmati goyangan bus PO Haryanto ini, yang dikemudikan Bapak Sugi. Baru naik tanjakan Plelen, Alas Roban, sudah dikode lampu dari belakang. Wah ternyata SCANIA Nusantara bergambar gedung langsung ngejoss nanjak mendahului bus PO Haryanto yang saya tumpangi. Begitu lepas tanjakan Plelen, barulah kepiawaian Pak Sugi terlihat. Lumayan kencang juga beradu dengan bus-bus dari daerah Solo dan Yogyakarta, walaupun pakai OH 1521, sambil ngobrol dengan saya. Lewat tengah malam saya mundur juga ke belakang karena sudah lumayan lelah, setelah berpindah-pindah bus. Saya melihat jalan sedikit padat, cenderung macet, saat memasuki daerah Jawa Barat. Sekitar pukul 05.30 bus tiba di terminal Lebak Bulus, Jakarta. Sebuah perjalanan yang luar biasa. Berpindah-pindah bus dan singgah di beberapa kota. Kembali kepuasan saya dapatkan, dalam menikmati perjalanan dengan bus. Sampai bertemu kembali di catatan perjalanan saya selanjutnya. (Gentur)
|